Judul Buku : Gelap-Terang Hidup Kartini
Pengarang : Tim Buku TEMPO
Langsung saja berikut riview dan resensi singkat buku yang membahas sosok Ibu Kita Kartini :
Kartini adalah pemikir feminisme awal di Indonesia. Dia perempuan yang gagasan-gagasannya mencerahkan dann mengilhami kalangan yang lebih luas.
Malu rasanya ketika hanya mengerti Kartini lewat buku pelajaran dan lagu yang dikumandangkan setiap bulan April. Parade pakaian adat yang seakan menjadi tradisi untuk meramaikan hari kelahiran sosok dibalik emansipasi wanita. Tapi benarkah dirayakannya dengan cara yang demikian?
Gelap-Terang Hidup Kartini disusun oleh Tim buku TEMPO melalui beragam riset dan juga referensi. Buku ini mengungkap sisi dari Kartini yang tidak ditulis dalam buku-buku pelajaran itu. Seperti misalnya bahwa bapaknya punya pandangan progresif akan pendidikan terhadap anak perempuannya, meskipun ia tetap berpegang pada adat Jawa. Kartini yang merupakan keturunan ningrat pun berusaha mendobrak batasan-batasan yang selama ini melemahkan posisi perempuan.
Yang paling menonjol dan bisa aku jadikan poin utama ialah perihal perempuan dan kepemilikan terhadap suaranya sendiri. Kartini menuntut berakhirnya feodalisme yang membuat perempuan (apalagi dari keluarga berdarah biru) seakan tidak punya pilihan dan kendali terhadap dirinya sendiri. Hal tersebut tercermin dalam sebuah percakapan antara Kartini dengan bapaknya. Ia menanyakan akan menjadi apa kelak dan bapaknya dengan mantap menjawab, “Raden Ayu.” Dengan kata lain, sedari lahir, garis hidup Kartini sebagai perempuan sudah ditentukan. Mau ia berusaha sekolah setinggi mungkin, “titel” yang ia emban memberatkan dirinya.
Inilah jawaban yang kelak malah membangkitkan jiwa Kartini untuk berontak terhadap peraturan-peraturan. Bahwa menjadi raden ayu berarti seorang gadis harus kawin, harus menjadi milik seorang laki-laki, tanpa mempunyai hak untuk bertanya apa, siapa, dan bagaimana.
Sayangnya, hampir separuh informasi yang ada di dalam buku ini bersifat repetitif. Meskipun narasi dan konteksnya berbeda, namun hal-hal yang sudah disampaikan di bagian awal kembali lagi diulang. Jujur saja, bagiku hal tersebut membuat buku ini hanya ku berikan 3 bintang.